Ikuti @TKD_AntasariBJM

Berita Terbaru

Pelantikan Pengurus Baru UKM BD Taekwondo

Assalamualaikum wr. wb.
Annyeong haseyo yeorubun πŸ™‹
Kembali lagi nih di blog kami yang sudah beberapa bulan gak ngepost. Kali ini akan membahas tentang Pelantikan Pengurus Baru Tahun 2019-2020 dan otomatis Ketum Baru dong ya...
Kemarin pelantikan nya diadakan pada tanggal 5 Januari 2019 di salah satu ruang kuliah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), tepatnya di samping Asrama 4 atau yang lebih dikenal dengan rusunawa.
Bukan hanya Ketum Baru yang dilantik, akan tetapi pengurus baru juga yang pastinya karna sudah melewati beberapa tahap untuk bisa menjadi anggota penuh dalam UKMBD Taekwondo ini.
Istilah ngetren nya disini itu "Dangsanak" tapi kalau dalam Bahasa Indonesia nya "Saudara" walaupun bukan sedarah.
Dan inilah "Dangsanak" baru kami setelah dilantik bersama Ketum Baru kami yang bernama Zainal Abidin (Enal).



Itulah foto yang menjadi bukti bahwa kami sudah mengucap janji untuk bisa menjalankan amanah selama setahun kedepan. Semoga terjalankan semua proker nya dan tentunya semakin sukses kedepannya..
Sampai jumpa lagi di blog selanjutnya..
Gomawo yeorubun πŸ™‹
Wassalamualaikum wr. wb.
1 comment Read More›

Atraksi Taekwondo di INVENT


UKM Taekwondo merupakan sebuah UKM  beladiri di UIN antasari Banjarmasin. Akan tetapi mengenai atraksi sudah tidak diragukan lagi. Mulai dari acara dies natalis UKM UKM lain, PBAK, hingga latihan gabungan antar beladiri, Tkd Antasari selalu diundang untuk menampilkan atraksi yang menghibur.
                Baru-baru ini Tkd antasari diundang untuk menghadiri atraksi di acara Internasional Evant (INVENT) yang diadakan oleh HMJ Pendidikan Bahasa Inggris UIN Antasari. Acara ini merupakan salah satu acara terbesar yang diadakan tiap tahunnya oleh HMJ PBI UIN Antasari. Untuk tahun ini diadakan di Auditurium Mastur Jahri UIN Antasari. Disana serangkaian lomba dan bazaar juga diadakan.
                Dalam atraksi kali ini Tkd Antasari sedikit banyaknya berbeda dengan biasanya. Mengingat bahwa beberapa anggota  sedang mengikuti KKN keluar daerah. Untuk menutupi hal ini dilibatkan juga anggota baru dan tentu saja senioran UKM BD Tkd untuk meramaikan atraksi. Hasilnya pun tidak mengecawakan, atraksi yang dibawakan Tkd Antasari masih menyita perhatian dan mengundan decak kagum penonton.
                Atraksi yang ditampilkan mulai dari menendang target oleh semua anggota atraksi Tks Antasari, dengan berbagai gaya tendangan. Sampai disini  penonton sudah dibuat kagu dengan atraksi yang dibawakan tim atraksi Tkd Antasari. Lebih lagi beberapa penonton yang tersenyum kecut saat gagal menirukan.
                Kemudian dilanjutkan oleh pomsae yang dibawakan oleh sabeum dan beberapa taekwondoin lain. Tentu saja atraksi yang ditampilkan tampak selaras dan harmoni. Ditambah lagi iringan musik yang menggetar lembut dan anggun yang membawa penonton ke suasana khidmat dan kagum.
                Penampilan selanjutnya tak kalah menarik, kyukpa. Yang tadinya penonton dibawa ke suasana tenang, kali ini justru sebaliknya. Penonton disuguhi penampilan berapi-api tim kyukpa yang memecahkan papan dengan berbagai gaya tengangan. Semangat dan teriakan penonton tentu saja pecah. Lebih-lebih ketika giliran beberapa tendangan hanya dengan satu lompatan dan memecahkan semua papan. Gemuruh teriakan penonton tidak terbendung seakan  menembus semua ruang kelas seUIN.
                Kemudian penampilan terakhir yaitu dance, tak hanya beladirid, dance juga ditampilkan oleh tim atraksi Tkd Antasari. Hal ini menjadi daya tarik luar biasa bagi penonton mahasiswa UIN, terlebih perempuan. Berbagai lagu diputar dan beragam gaya dance telah dibawakan. Pada puncaknya bahkan penonton ikut masuk dan menari memenuhi lapangan audit. Belum lagi sorotan kamera yang tidak ada habis-habisnya ditengah puncak keramaian ini.
Bravo, UKM-BD Taekwondo UIN Antasari!

Leave a Comment Read More›

ACTION (Academy Taekwondo of Antasari) 2018

Kegiatan ACTION 2018 kali ini dilaksankan pada tanggal :
Indoor 13-14 Oktober
Outdoor 19-21 Oktober
untuk lokasinya pada saat indoor masih di area kampus, sedangkan untuk outdoornya bertempat di Buper Ufo Taman Hijau Daun Desa Padang Panjang Karang Intan.







Selamat Berproses Sanak di UKM BD Taekwondo UIN Antasari Banjarmasin πŸ’—
Leave a Comment Read More›

Pro Kontra Aturan Penilaian Gerakan Poomsae




Terkait dengan perkembangan taekwondo poomsae itu, Pro kontra mengenai aturan dan nilai gerakan poomsae juga kerap diperdebatkan oleh para praktisi taekwondo. Beberapa praktisi mengemukakan bahwa, hal tersebut terjadi karena gerakan poomsae banyak mengalami perubahan. Sementara para praktisi lainnya menyatakan bahwa sejak dulu sebenarnya gerakan poomsae tidak pernah berubah. Yang terjadi adalah gerakan poomsae terus mengalami dinamika dari unsur keindahanannya.
Disatu sisi, walaupun referensi mengenai aturan penilaian gerakan tersebut mengacu kepada standarisasi yang telah ditetapkan oleh World Taekwondo Federation (WTF), namun pada kenyataannya para praktisi taekwondo cenderung menilai bahwa selama ini penilaian teknis gerakan poomsae tetap saja dipengaruhi oleh subyektifitas para wasit.
Menyangkut sistem penilaian waktu misalnya, salah satu praktisi taekwondo Indonesia, Novarli Sirajudin mengemukakan bahwa di dalam Poomsae terdapat gerakan khusus yang dilakukan secara perlahan. Misalnya : Aturan waktu lima detik. Penilaian mengenai waktu lima detik ini menurutnya berlaku untuk gerakan taeguk 6, yaitu Naranhi Seogi Are Hecho Makki, taeguk 7 yaitu Moa Seogi Bojumok, Koryo, yaitu Naranhi Seogi Tongmilgi Junbi, Keumgang untuk gerakan Naranhi Seogi Are Hecho Makki,  Pyongwon untuk gerakan Naranhi Seogi Sonnal Are Hecho Makki,  Sipjin untuk gerakan Dwitkubi Pyonsenkut Eopo Jirugi, Apkubi Bawi Milgi, Junchum Seogi Sonnal Are Hecho Makki dan Chonkwon untuk gerakan Moa Seogi Nalgaepyogi, Dwitkubi Sonnal Waesantul Makki, Beom Seogi Tessan Milgi  serta Ilyeo untuk gerakan Dwitkubi Keumgang Makki.
Kemudian, untuk peraturan dan penilaian Waktu delapan detik, Novarli menjelaskan  penilaian tersebut berlaku untuk gerakan  taeguk 8 yaitu Apkubi Dangkyo Teok Jirugi, Koryo untuk gerakan Moa Seogi Mejumok Are Pyojok Chigi, Keumgang untuk gerakan Hakdari Seogi Keumgang Makki, Jitae untuk gerakan Apkubi Elgul Makki – Momtong Baro Jirugi, Dwitkubi Momtong Bakkat Makki, Apkubi Elgul Makki, Chonkwon untuk gerakan Apkubi dari posisi Sonnal Bituromakki lalu pergelangan tangan diputar selanjutnya maju kaki belakang Apkubi dan melakukan Momtong Baro Jirugi serta Ilyeo untuk gerakan Wasentol Makki Yeop Chagi.
Menurut Novarli, beberapa hal yang ia kemukakan dalam hal aturan penilaian terkait ketentuan waktu dalam gerakan poomsae tersebut, secara empiris didasarkan atas pengamatannya pada saat kejuaraan dunia poomsae di Bali beberapa waktu lalu. Ia menegaskan, ternyata banyak sekali perubahan mendasar dalam gerakan-gerakan tersebut. Misalnya : lintasan tangkisan momtong harus melawati Injung (antara bibir dan hidung), pergerakan tangan selalu ada unsur putaran (Twist), awal tangkisan momtong tidak boleh melebih bahu, An Makki sejajar dengan bagian tengah tubuh, Bakkat Makki harus sampai garis badan bagian luar, An/Bakkat Makki membentuk sudut 90-120 derajat, tidak ada perubahan tinggi badan, yang ada adalah perubahan kuda-kuda yang sama, kecuali ada tendangan. Misalkan taeguk 5 Ap Kubi An Makki – Apchagi – Apkubi Jumjumok Elgol Apchigi – Momtong An Makki.
Terlepas ada atau tidaknya perubahan dalam gerakan poomsae tersebut, kondisi ini memang bisa membingungkan sebagian para praktisi taekwondo di daerah. Wari Agusta, misalnya, pelatih di Wariors Taekwondo Team ini menyarankan, agar tidak membingungkan para pelatih/praktisi taekwondo, sebaiknya dilakukan diklat khusus poomsae, yang kemudian dibakukan. Dalam diklat tersebut juga dilatih oleh pelatih yang berkompeten untuk menghasilkan referensi atas gerakan-gerakan poomsae yang benar. Menurutnya hal ini sangat penting agar para pelatih, khususnya di daerah tidak salah dalam menerapkan gerakan-gerakan poomsae.
Dilain pihak menurut salah seorang praktisi taekwondo, Ade Muhammad Sujud, sebenarnya tidak ada yang berubah dalam gerakan-gerakan poomsae. ”Dari dulu gerakan poomsae ya itu-itu saja. Intinya Style. ” Tegasnya.
Ade menjelaskan, sebenarnya tidak ada itu yang namanya “perubahan”.
Poomsae sejak dulu ya begitu-begitu  saja, hanya tinggal “selera wasit” saja yang berubah. Hal tersebut didasarkan atas pengalamannya sejak mengikuti kejurnas poomsae tahun 2009 hingga sekarang.
Misalnya dari yang dikatakan gerakan “patah-patah” (sebenarnya tidak patah), lalu “mengalir lambat”, kemudian “mengalir cepat”lalu kembali lagi ke gerakan awal “seperti patah-patah tapi mengalir”.
Artinya, menurut Ade kita tidak bisa bilang yang tendangannya melewati kepala adalah “salah”.
Ia mengambil contoh, misalnya jika ada seleksi/battle yang di adakan KTA, maka style yang dipakai adalah tendangan semaksimal mungkin. Tetapi jika turun di kejuaraan dunia, misalnya, semua cari aman. Dari pada jatuh dan kena pengurangan, lebih baik menendang tidak terlalu tinggi tapi steady/ tidak kehilangan balance. Dan masih banyak lagi yang menurutnya, gerakan poomsae identik dengan style. Dalam konteks ini, Ade mengingatkan sekaligus menyarankan agar para pelatih mempelajari semua berbagai macam style yang ada dan dipraktekkan.
Sementara itu, praktisi taekwondo lainnya, Florian Arizona menambahkan, dalam kompetisi Poomsae, kesalahan dalam mempresentasikan interval satu teknik tertentu bisa mengakibatkan sang atlet kena potongan 0,3 dalam kategori akurasi jika selisih waktunya terpaut 3 detik dari yang seharusnya karena termasuk kesalahan besar dan akan dikenakan potongan 0,3 jika sang atlet melakukan tangkisan/ pukulan/ tendangan kesasaran yang salah. Misalnya, jika seharusnya sasaran teknik tersebut adalah Olgul namun sang atlet mempresentasikannya momtong maka pengurangan akan diberikan oleh juri.
Dijelaskan Florian, peraturan pertandingan sendiri ada beberapa yang berubah dan disesuaikan sesuai perkembangan di dunia dan organisasi Taekwondo, seperti terakhir yang ia ketahui saat ada penggantian kepala wasit Poomsae WTF yang diikuti dengan adanya beberapa perubahan dalam ketentuan kompetisi Poomsae pula.
Namun demikian hal-hal teknis mengenai gerakan poomsae tersebut menurut Ade Muhammad Sujud ujung-ujungnya adalah bagaimana wasit melihat keindahan gerakan poomsae.
”Poomsae itu keindahan, dan keindahan itu tergantung yang melihatnya. tetap saja unsur subjektivitasnya tinggi sekali.” Ujarnya.
Jadi jika bicara poomsae, menurut Ade, maka subjektivitas yang berlaku,Aturan pembatasan seperti apapun kakunya, Lagi-lagi pada akhirnya adalah keindahan. Jadi menurutnya, point-nya adalah “enak dilihat atau tidak”Seleranya apa dan bagaimana dari para wasit ? Jika wasitnya bilang “tidak indah” ya kalah. Beda dengan kyorugi, semua orang dalam satu ruangan bisa sepakat sebuah tendangan bernilai atau tidak cukup dengan melihat dan mendengar impact benturan dari tendangannya terhadap lawan si atlet, sementara poomsae kan bukan telinga, tapi mata.
Terlepas dari pro kontra mengenai teknis gerakan poomsae, keindahan Poomsae memang bisa tergantung dari persepsi masing-masing orang yang melihatnya, dan Poomsae itu sebenarnya sifatnya personal dan masing-masing orang akan memiliki style Poomsaenya masing-masing saat mempresentasikan Poomsaenya, tergantung pengalaman dan motivasinya berlatih selama ini.
Sebab, banyak aturan-aturan dan pakem dalam melakukan Poomsae yang sifatnya ketat karena mengandung intisari dan fungsi aplikatif pembelaan diri dari tiap Poom dalam Poomsae. Sebagai contoh, secara teknis banyak praktisi yang mempertanyakan dan memusingkan dimana letak posisi kepalan, berapa sudut tekukan dengkul, berapa derajat posisi telapak kaki, berapa derajat posisi pinggul dan dimana proporsi berat badan ditempatkan.
Sebenarnya dua-duanya baik perwasitan Kyorugi maupun Poomsae bisa dipelajari karena sudah ada aturan kompetisinya (competition rules). Namun, karena aturan kompetisi sering mengalami perkembangan dan penyesuaian, maka baik wasit, pelatih maupun atletnya perlu juga untuk update tekniknya menyesuaikan dengan perubahan dan perkembangan aturan kompetisi terbaru jika ingin menang dalam pertandingan.
Problemnya adalah akses informasi dan kesempatan untuk mempelajari competition rules-nya yang masih sangat kurang. untuk mengatasi hal tersebut, idealnya saat technical meeting tata cara penilaian dan aturan kompetisinya harus dibahas tuntas untuk fairness,
Lebih baik lagi jika diadakan diklat/ seminar/ latihan rutin secara berkala, sehingga nantinya pertandingan akan berjalan makin kompetitif dan prestasi nasional serta international bangsa ini akan bisa makin berkembang.
Leave a Comment Read More›

○○○○○○WTF○○○○○○

○○○Induk kami○○○